sepeminuman teh bareng zizek

ZizekPercakapan imajiner-ku masih bersama Slavoj Zizek. Karena dia termasuk filusuf mbeling, ngobrolnyapun dengan gaya mbeling. aku tanya ke dia, “Zek, menurut kamu apa sih cinta itu?” ehhh… dia malah khotbah.

si Zizek njawab begini: “cinta …adalah suatu untuk mencintai yang seolah “tak dapat dicintai”. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan, apalagi dipaksakan.” Ingat itu Cah… kata dia. “Mencintai orang lain berarti mencintai tidak hanya sisi-sisi baiknya, tetapi juga sisi-sisi traumatis yang tak terduga, yang terkandung di dalam dirinya”

“waahhh keren istilah yang kamu pakai Zek. mencintai yang seolah tak dapat dicintai” celetukku sambil nggeser bokong. “agak susah dicerna”.

“betul Cah.. Mencintai yang terduga berarti tidak mencintai sama sekali, karena kita sudah menebak, dan mengkalkulasi dirinya. Mencintai baru bisa dianggap sungguh mencintai, ketika kita mencintai orang-orang yang tak terduga, yang tak dapat kita terka, yang tak dapat kita bungkus dalam kesempitan konsep pikiran maupun keinginan kita.”

“sek…sek..Zek. arep ujan. aku tak ngangkat jemuran sek ya.. lanjut meneh mengko ya”See More

lebay bangetz sichhh…

Ilustrasi dari mbah gugel

Ilustrasi dari mbah gugel

|Ada seorang tukang reparasi jam tangan memakai kaca pembesar lupa melepasnya dan jalan-jalan ke kebun. seketika dia teriak-teriak karena melihat kucing. dikiranya itu macan. kacamata bikin orang jadi LEBAY. ada demo sedikit dibilang mau KUDETA |

|kalau jadi pemain bola pasti sukanya DIVING. jatuh kesenggol aja menggelepar-gelepar. pasti waktu kecil kalo mainan sama temenya, disenggol aja bilangnya DIPUKUL |

| lebay bangetz sichhh… |

kebangkitan yang mati

ilustrasi katak rheobatrachus-silus

ilustrasi katak rheobatrachus-silus

pagi ini saya membaca jurnal ilmiah yang menyebutkan bahwa para ilmuwan telah berhasil menghidupkan “lazarus“. ya, spesies katak yang mengerami telur di dalam perutnya. proyek ini diberi nama Lazarus Project, menggunakan teknologi kloning yang menanamkan inti sel mati ke dalam katak masa kini.

seketika membaca artikel yang dimuat di faktailmiah.com ini saya kembali teringat tentang perdebatan abadi antara science dan agama. bahkan ada satu pendapat bahwa agama dan science tidap usah diperdebatkan. biarkan mereka berjalan sendiri-sendiri.

memang, jika keduanya diperdebatkan, sampai kapanpun tidak akan menemukan titiknya. karena bagi saya pribadi, jalan yang mereka tempuh (science dan agama) memang berbeda. kalau garis dalam matematika yang keduanya sejajar. tidak akan ada persimpangan (titik pertemuan).

science begitu progressive. melaju sangat kencang bak kilatan cahaya, sedangkan agama tidak akan pernah lepas dari sejarah dan teks kuno. usaha untuk mempertemukan keduanya adalah mengada-ada, menurutku.

apa yang sudah mati, punah, bisa saja menjadi rangsangan bagi manusia untuk mengerjakan sesuatu yang mustahil. dan justru karena pikiran yang nyeleneh inilah science menemukan identitasnya. jika dalam agama, apa yang sudah mati itu sesuatu yang tabu untuk “dibangkitkan” lagi, karena itulah kehendak tuhan. lagian, bila manusia menciptakan kehidupan, bukankah itu sikap kurang ajar kepadanya? tetapi bayangkan bila science mengadopsi paradigma seperti itu, pasti science menjadi mandul.

ini hanya pendapat pribadi. 

| fenomenologi |

Dalam fenomenologi, semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri. Dengan begitu, fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Husserl menyebut tugas utama fenomenologi adalah menjalin keterkaitan antara manusia dengan realitas. Keterkaitan ini mendorong manusia untuk mempelajari fenomena-fenomena yang ada dengan pengalaman langsung dengan realitas tersebut. Dengan kata lain fenomenologi tidak membiarkan kita untuk mencampur fenomena dengan apa yang ada dalam pikiran kita, dan membiarkan fenomena tersebut berjalan apa adanya.

Makna sesuatu bagi seseorang selalu terkait dengan hubungan sesuatu itu dengan kehidupan orang tersebut. Husserl menekankan satu hal penting: Penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung dulu dalam kaitan dengan status atau referensi ontologis atau eksistensial objek kesadaran.

Selanjutnya, menurut Husserl, epoche memiliki empat macam, yaitu :

  1. Method of historical bracketing; metode yang mengesampingkan aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama maupun ilmu pengetahuan.
  2. Method of existensional bracketing; meninggalkan atau abstain terhadap semua sikap keputusan atau sikap diam dan menunda.
  3. Method of transcendental reduction; mengolah data yang kita sadari menjadi gejala yang transcendental dalam kesadaran murni, dan
  4. Method of eidetic reduction; mencari esensi fakta, semacam menjadikan fakta-fakta tentang realitas menjadi esensi atau intisari realitas itu. Menerapkan empat metode epoche, maka seseorang akan sampai pada hakikat fenomena dari realitas yang diamati

| melepaskan untuk mendapatkan |

Kata Platonian, bahwa pendidikan adalah soal intelektualitas. Pemahaman akan sesuatu. Untuk menjadi orang yang baik maka harus memahami apa itu baik (pengetahuan). Jika belum menjadi baik itu berarti belum memahami dengan sungguh apa itu baik.

Bagi Aristotelian, pandangan paltonian tersebut sangat dangkal. Orang yang memahami kejujuran belum tentu berlaku jujur dalam tindakan sehari-hari. Seharusnya tidak berhenti pada pemahaman belaka, bukan soal intelektulitas saja, tetapi perlu pengkondisian, perlu dibiasakan (habituation) sehingga akhirnya menjadi karakter. Untuk menjadi jujur, orang harus dibiasakan dan dikondisikan untuk jujur sehingga kejujuran menjadi karakter.

Lain lagi bagi Reza A.A Wattimena, bahwa belajar sebagai penyadaran. Dan untuk penyadaran maka diperlukan pelepasan semua pengetahuan dan pengkondisian yang ada. Ia juga perlu berhenti menganalisis segala peristiwa yang terjadi di dalam hidupnya. Orang harus belajar untuk unlearn. Menunda segala penilaian… belajar mendengarkan dengan hati.

| melepaskan untuk mendapatkan |

| dan adam pun diam |

ketika hawa sedang melayani rayuan ular itu, dimanakah adam? tidur? taman eden sungguh sangat memanjakan mereka.

ketika hawa sedang mengulurkan buah itu, dimanakah adam?

| dia ada di samping hawa | ya… tepat disebelahnya |

| jadi, adam tau apa yang terjadi saat itu. betul. dia menjadi saksi atas peristiwa yang menyenangkan itu, yang oleh otoritas eden dianggap memalukan itu | karena sebetulnya mereka berdua lah yang melakukan |

tapi mengapa adam melemparkan kesalahan? atau mengapakah adam tidak mencegah penjerumusan itu terjadi?

| sejak adam, setiap lelaki memiliki kecenderungan alamiah untuk tetap diam pada saat seharusnya ia angkat bicara | …… adam harus bicara |

| meringkus tuhan |

atu-satunya kebenaran dalam pengetahuan kita tentang Tuhan, adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya mengetahui apa pun tentang dia |

| ketika pikiranku mulai anarkis mempertanyakan asalku, saat itulah aku sampai pada sesuatu yang tak bertepi | tuhan |

| ia adalah jalan yang menolak tepi, sebab ia memang adalah sebuah  mythoi; pengalaman dan keyakinan yang tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam kata-kata | tuhan |

| bicara tentang tuhan berarti membawa diri untuk membaca ragam episode yang merentang dalam galur-galur argumentasi yang bersilangan. sebuah persilangan yang acapkali tak mudah untuk di terima; wahyu dan gemerincing suara kibasan pedang |

| bagaimana kita meringkusnya bila dia adalah sesuatu yang tak bertepi, sesuatu yang tidak mudah di katakan? |

| imajinasi liar seorang agnostik |